Bagi penggemar novel, khususnya yang berjenis misteri plus thriller, perkenalkan, novel karya Gregg Loomis yang diberi judul The Pegasus Secret. Tokoh utama kisah ini bernama Lang Rilley, mantan pengacara yang beralih profesi menjadi detektif swasta.
Pada buku ini dikisahkan bahwa Lang menyelidiki tentang pembunuhan adik perempuannya yang disebabkan hanya karena sebuah lukisan. Tapi lukisan tersebut bukanlah lukisan biasa karena lukisan tersebut adalah karya pelukis Nicholas Poussin yang berjudul "Gembala dari Arkadia." Penyelidikannya membawanya kembali ke masa abad pertengahan, karena musuhnya adalah suatu organisasi rahasia yang sangat terkenal pada masa itu, The Knight Templar! Hal itu membawanya berkeliling ke benua Eropa, khususnya negara yang pernah menjadi basis perkumpulan organisasi tersebut, Prancis.
Novel ini sangat bagus, karena disamping hiburan, novel ini dapat memberi kita pengetahuan, khususnya mengenai sejarah abad pertengahan. Beragam pujian juga dilontarkan oleh para penulis kelas dunia, diantaranya komentar yang paling mencengangkan adalah komentar dari Robert J. Randisi, penulis Blood of Angels, yang mengatakan, "lebih banyak intrik dan ketegangan dibandingkan Da Vinci Code."
Satu hal lagi, di dalam buku ini disisipkan sebuah naskah catatan harian yang berasal dari abad pertengahan. Catatan tersebut ditulis oleh Pietro dari Sisilia, seorang anggota Templar. Naskah kuno tersebut diterjemahkan oleh Dr. Nigel Wolffe, Ph. D.
Tentunya dengan komentar dan "suplemen" tambahan dari abad pertengahan itu kita bisa membayangkan isi dari novel karya Gregg Loomis ini. Selamat membaca.
Berikut pidato Presiden SBY saat itu:
“Bismillahir Rahmaanirrahiim,
I have come here at this hour to make a special appeal to you.
We have invested so much time and energy in the last 12 days or so. We make a significant progress on many issues but we need to do more to make it a complete package.
We are now nearing the climax of our deliberations, and we must make the last mile in this exhaustive marathon—the most difficult mile!
For last September, when we had a High-level Event on Climate Change in New York, there was an agreement, a clear call—actually a demand—among world leaders that we must make a “breakthrough” in Bali. This is a political commitment that we all share.
Thus, here and now, we must produce a Roadmap—the Bali Roadmap—that will effectively guide us in the most concrete terms to a firm and effective agreement in Copenhagen. This means concrete actions, concrete resources and concrete timelines. Without an effective Roadmap, we may never reach our destination as we envisioned it.
We now have before us milestone decisions to make. There are wording that you must choose correctly, and I believe that you do so wisely. We must now give it our most careful consideration, and come to an agreement over it. The worst thing that can happen is for the great project for the human race and for our planet earth to crumble because we can find the rights “wording.”
We all embrace the principle of “common and differentiated responsibilities,” but this also means that developed and developing countries must DO MORE based on their respective capabilities. I do believe that the wording in the text you are considering already point us to the right direction.
What we do within this day will have an impact on the decades to come. We must therefore do what we sincerely recognize to be our duty, our moral obligation.
The world is watching us today. History will be judging us tomorrow. Future generations will remember: whether we rose to the occasion and seized the opportunity before us, or let it slip through our finger. It is time to think outside the box.
Too much is at stake. The alternative to a breakthrough our efforts here and now is not acceptable. We cannot fail. We must not fail. For the sake of our future generations, we must make that breakthrough to which we pledge ourselves.
Ultimately, there are three things that will make or break this conference. The first is a spirit of cooperation, a resolve to get things done, a spirit of globalism. All of you who have in Bali know and feel this spirit. The second thing that we need is our strong commitment to make this breakthrough. Again, I know that all of you have a commitment to make a difference. We just find a common ground for it. And the best way to reach that common ground is by nurturing a feeling of trust and confidence in what is bound to be a very difficult and painful negotiating process. And the third is flexibility. A spirit to give and take, and a willingness to compromise, without losing sight of the grand scheme that we are trying.
I know that we put all these things together—spirit of cooperation, commitment flexibility, we will make the last mile. The world is waiting anxiously. The world is watching. I beg you: Do NOT let them down.
Let us complete our work here.”
Teks pidato ini saya dapat dari sebuah buku kecil namun berbobot, berjudul "HARUS BISA, " tulisan Dr. Dino Patti Djalal, juru tulis Presiden SBY.
Menurut beliau, ketika Presiden SBY selesai menyampaikan pidato ini, akhirnya tujuan dari UNCCC ini tercapai setelah para delegasi dari berbagai negara sudah merasa bahwa konferensi ini akan gagal. Tetapi begitu pidato ini selesai, para delegasi merasa optimis dan akhirnya menyelesaikan apa yang kemudian disebut dengan "Bali Roadmap."

Bagi teman-teman yang merasa bosan dengan film konflik antara dua Negara yang menunjukkan kekerasan, saya rekomendasikan agar teman-teman nonton film Don’t Mess with the Zohan. Film yang dirilis pada 2008 lalu ini mengangkat tema konflik Palestina-Israel, tapi tidak akan membuat anda menjadi tegang dan miris, tapi akan membuat anda senyum-senyum bahkan tertawa. Akan tetapi sebaiknya anak-anak tidak usah diajak untuk menyaksikan film ini, karena ada beberapa scene yang tidak layak ditonton anak-anak.
Banyak adegan-adegan yang lucu, semisal Zohan (diperankan oleh Adam Sandler) yang seorang Israel dan musuhnya, Phantom yang merupakan orang Palestina, memutuskan menyelesaikan perselisihan mereka dengan bermain pingpong. Yang aneh adalah bolanya adalah bom dan dilakukan di tengah laut. Dan Zohan hanya memakai celana dalam.
Zohan adalah tokoh utama kisah ini. Dia seorang prajurit yang sangat tangguh, bahkan bisa dibilang mempunyai kekuatan super. Dia mengidolakan seorang pria bernama Paul Mitchell, seorang penata rambut asal Amerika. Dan dia mempunyai cita-cita untuk pergi ke Amerika dan menjadi seorang penata rambut. Ketika ia mengutarakan kepada orangtuanya bahwa ia ingin berhenti menjadi prajurit dan memilih pergi ke Amerika untuk menjadi penata rambut, mereka malah tertawa terbahak-bahak dan mengejek putra mereka sebagai “fagala” alias banci.
Ketika di Amerika, Zohan bertemu dengan seorang gadis Palestina, yang bernama Dalia(Emmanuelle Chriqui), yang menjadi bos-nya di salon tempatnya bekerja. Dan Zohan jatuh cinta pada gadis ini, yang ternyata merupakan adik dari Phantom, musuh besarnya.
Film ini sangat menarik karena logat arab sangat terasa saat mereka mengucapkan kata-kata dalam bahasa inggris. Percakapan-percakapannya pun sangat menggelitik. Seperti saat Zohan menunjukkan ‘anu’ nya pada teman kerjanya. Dia mengatakan bahwa miliknya adalah yang terbesar. Dan dia bangga akan hal itu. Juga ketika ‘anu’nya tidak bisa ‘bangun’, ia menyuruh dokter untuk melihat lebih teliti dan berkata “inside the bush.”
Pada akhir kisah ini, Zohan dan Phantom akhirnya bekerja sama saat seorang pengusaha kaya berusaha mengadu domba komunitas Palestina dan Israel di Amerika. Dan Zohan menikah dengan gadis Palestina yang dulu disukainya.
Walaupun film ini mungkin berbeda dengan budaya arab pada kenyataanya, tapi pada intinya film ini ingin menujukkan bahwa bangsa Palstina dan Israel bisa berjalan berdampingan tanpa bermusuhan. Selamat menyaksikan!
Kita hanya perlu “ngobrol”melalui ujung pena. Dan lawan kita akan mendengar melalui earpiece tersebut.
Mengenai harga tampaknya masih belum diketahui.
Bagi yang berminat silahkan menabung dari sekarang.
Setelah beberapa waktu lalu Microsoft merilis MS Office 2007, kini perusahaan software raksasa tersebut tengah bersiap merilis Microsoft Office 2010.
Menurut Senior Vice President Microsoft, Chris Capossela, MS Office 2010 dapat dinikmati oleh pengguna komputer 6 minggu sampai 4 bulan
dari proses produksinya. Produksinya sendiri dilakukan pada bulan Januari 2010 mendatang.
Office ini akan dirilis dengan dua versi, yaitu 32 bit dan 64 bit, dan dikembangkan dengan operasi web.
Sementara itu versi beta MS Office 2010 akan segera dirilis. Mengenai harga, belum ada keterangan lebih
lanjut.
Tulisan ini sebenarnya dibuat untuk memenuhi tugas seni rupa ketika saya masih SMA. Dan waktu itu, saya bersama empat orang teman: Hari, Galang, Mohing, dan Hendron berhasil menyusun tulisan ini. Dan saya ingin berbagi masa-masa itu dengan pembaca yang mungkin sedang membuka dan membaca blog saya yang sederhana ini.
Seni Lukis: Sejarah umum dan Perkembangannya di Indonesia
A. Sejarah umum seni lukis
Secara historis, seni lukis sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan mereka.
Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan karena lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.
Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Seperti gambar, lukisan kebanyakan dibuat di atas bidang datar seperti dinding, lantai, kertas, atau kanvas. Dalam pendidikan seni rupa modern di Indonesia, sifat ini disebut juga dengan dwi-matra (dua dimensi, dimensi datar). Seiring dengan perkembangan peradaban, nenek moyang manusia semakin mahir membuat bentuk dan menyusunnya dalam gambar, maka secara otomatis karya-karya mereka mulai membentuk semacam komposisi rupa dan narasi (kisah/cerita) dalam karya-karyanya.
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan obyek-obyek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari obyek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap obyeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam obyek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya. Pencitraan ini menjadi sangat penting karena juga dipengaruhi oleh imajinasi. Dalam perkembangan seni lukis, imajinasi memegang peranan penting hingga kini.
Pada mulanya, perkembangan seni lukis sangat terkait dengan perkembangan peradaban manusia. Sistem bahasa, cara bertahan hidup (memulung, berburu dan memasang perangkap, bercocok-tanam), dan kepercayaan (sebagai cikal bakal agama) adalah hal-hal yang mempengaruhi perkembangan seni lukis. Pengaruh ini terlihat dalam jenis obyek, pencitraan dan narasi di dalamnya. Pada masa-masa ini, seni lukis memiliki kegunaan khusus, misalnya sebagai media pencatat (dalam bentuk rupa) untuk diulangkisahkan. Saat-saat senggang pada masa prasejarah salah satunya diisi dengan menggambar dan melukis. Cara komunikasi dengan menggunakan gambar pada akhirnya merangsang pembentukan sistem tulisan karena huruf sebenarnya berasal dari simbol-simbol gambar yang kemudian disederhanakan dan dibakukan.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
B. Perkembangan seni lukis di Indonesia
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa.
Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktekkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa. Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaissance Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.
Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.
Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Keyakinan tersebut masih dipegang hingga saat ini.
Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan R. Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.
Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conseptual art): “Instalation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

